
PROLOG
Sejak kasus pertama dilaporkan pada 1981, AIDS menjadi agenda penting tidak hanya di kalangan kedokteran, tetapi juga di kalangan politisi pengambil keputusan, pemimpin agama, dan masyarakat dunia pada umumnya. Sejak itu pula pengetahuan mengenai AIDS dan virus HIV pun berkembang dengan sangat pesat. Berbagai penelitian untuk memahami karakteristik sindroma ini berpacu dengan penelitian untuk mendapatkan vaksin yang bisa menangkal virus tersebut. Sayangnya hingga saat ini, di luar harapan yang terus dijaga, dunia kedokteran belum berhasil menemukan vaksin semacam itu.
Yang menyedihkan, penularan virus penyebab AIDS ini lebih terkonsentrasi di wilayah Dunia Ketiga, yang masyarakatnya masih bergelut dengan masalah keterbelakangan pendidikan, ekonomi, dan terutama akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai.
Afrika sub-Sahara, terutama di wilayah timur dan selatan seperti Botswana, Namibia, Swaziland, dan Zimbabwe, sejauh ini adalah yang paling rawan infeksi HIV: seperlima sampai seperempat penduduknya yang berusia antara 1549 tahun terinfeksi HIV/AIDS.
Di Botswana, anak-anak yang dilahirkan selama dekade mendatang memiliki tingkat harapan hidup sampai 40 tahun. Padahal jika tanpa AIDS, harapan hidup mereka mencapai 70 tahun. Di Zimbabwe, dari 25 tempat yang dijadikan sampel penelitian pada 1997, hanya dua tempat yang prevalensi HIV-nya di kalangan perempuan hamil di bawah 10%. Sementara di 23 tempat lainnya prevalensi tersebut mencapai 20-50 persen. Sekitar sepertiga dari perempuan tersebut diperkirakan akan menularkan virus ke anak yang mereka kandung. Awal tahun 1999 ini pula pemerintah Zimbabwe mengumumkan prediksi bahwa dalam tahun ini akan ada lebih dari 70.000 warganya yang meninggal karena AIDS.
Laporan di majalah terkemuka The Economist edisi 2 Januari 1999 secara gamblang memaparkan bagaimana epidemi yang telah menginfeksi sekitar 47 juta manusia ini – 14 juta di antaranya sudah meninggal dunia – tak juga berkurang percepatan penularannya. AIDS kini menjadi pembunuh ke-4 di seluruh dunia setelah penyakit infeksi saluran pernafasan, gangguan saluran cerna, dan TBC. Infeksi HIV/ AIDS kini juga memakan korban lebih banyak dibanding malaria – penyakit yang sampai sekarang masih menjadi ancaman serius di banyak negara berkembang.
Di negara maju, memang, AIDS bukan lagi “akhir dari segalanya.” Berbagai macam obat – yang mahal harganya – membantu pasien HIV positif hidup lebih lama dan lebih sehat. Jumlah infeksi baru di kalangan masyarakat Amerika, Jepang, dan Eropa Barat juga berhasil ditekan sampai angka yang relatif rendah berkat kampanye efektif yang dilakukan secara terus-menerus.
Sebaliknya, di negara-negara berkembang, penyakit ini berkembang dengan pesatnya. Penduduk yang rata-rata miskin tak mampu membayar 1000 dolar per tahun untuk mendapatkan obat penyembuh berbagai infeksi oportunistik yang menyerang lantaran berkurangnya kekebalan tubuh. Akibatnya, saat ini jutaan orang di Afrika tak dapat berbuat apapun kecuali menanti kematian dengan pasrah.
Di Asia pun keadaannya tak lebih baik. Saat ini di seluruh Asia terdapat kurang lebih 7 juta penderita infeksi HIV. Jika dulu AIDS lebih diasosiasikan dengan kelompok pekerja seks dan pelanggannya yang ada di wilayah permukiman urban, atau di kalangan pecandu narkotika, maka sekarang anggapan itu harus direvisi.
India, yang 73% dari 930 juta penduduknya hidup di wilayah pedesaan, adalah contoh nyata. Di salah satu negara bagiannya yang berpenduduk paling sedikit, Tamil Nadu, ditemukan 2,1 % dari penduduknya yang berusia dewasa terinfeksi HIV. Angka 2,1% persen itu sendiri jauh di atas angka infeksi di kalangan masyarakat perkotaan di India yang hanya 0,7%. Selain itu, masih di negara bagian yang sama, ditemui kenyataan bahwa 10% dari responden pernah menderita penyakit menular seksual (PMS) seperti gonore, sifilis, dan sebagainya. Jelas bahwa ini adalah “lahan subur” bagi meluasnya epidemi HIV/AIDS.
Di Indonesia, perbandingan yang amat menyolok juga bisa dijumpai. Di Merauke, Irian Jaya, pada semester awal tahun 1998 dari perseratus ribu penduduk rata-rata dijumpai 44 orang pengidap HIV/AIDS (44/100.000). Padahal di Jakarta angka itu hanya 1,81/ 100.000. Selama bulan Januari 1999 saja dari 13 kasus baru infeksi HIV/AIDS yang dilaporkan, 11 di antaranya dijumpai di Irian Jaya (9 kasus HIV dan 1 AIDS). Sementara di Jakarta hanya ada tambahan satu kasus AIDS.
Berapa harga yang harus dibayar untuk semua ini? Setidaknya ada dua faktor yang, baik secara langsung ataupun tidak, berpengaruh pada besarnya beban yang harus ditanggung oleh suatu masyarakat (negara) akibat penyakit ini. Pertama, tidak seperti penyakit menular lainnya, infeksi HIV tidak mengakibatkan kematian segera, sementara biaya yang diperlukan untuk membeli obat-obat antiretroviral dan obat untuk berbagai jenis infeksi oportunistik sangat mahal, bahkan terlalu mahal, bagi pasien-pasien di negara-negara miskin. Kedua, karena pada umumnya penularan penyakit ini adalah melalui hubungan seks yang tidak aman, ada kecenderungan besar penyakit ini menimpa segmen masyarakat yang paling enerjik dan produktif.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya dialami oleh pasien yang bersangkutan dan keluarganya, tapi juga oleh negara asal pasien. Sebuah studi yang dilakukan belum lama ini di Namibia menunjukkan bahwa negara itu harus menganggarkan sebesar 8 persen dari total GNP-nya untuk pengobatan AIDS. Sementara sebuah analisis lain memprediksi GDP Kenya akan turun sampai 14,5 persen, dan pendapatan per kapitanya turun 10 persen pada tahun 2005 “hanya” karena banyak penduduknya yang tertular HIV. Pemerintah Fiji, sebuah negara kecil di kawasan Pasifik, awal tahun 1999 ini menyatakan tak akan lagi memasukkan penyediaan obat penekan virus dalam anggaran kesehatan nasional. Akibatnya, pasien AIDS yang menderita tuberkulosis, misalnya, hanya akan diperlakukan sebagai pasien TB biasa. Bukan pasien AIDS yang mengidap infeksi oportunistik TB.
AIDS juga mempunyai dampak yang tidak kecil di berbagai sektor kehidupan. Menurut data UNAIDS, Botswana misalnya harus kehilangan 2-5 persen dari tenaga guru karena AIDS, sementara semakin banyak tenaga edukatif yang mengambil cuti sakit yang juga kian panjang.
Di sektor swasta penelitian mengenai kaitan HIV/AIDS dengan produktivitas perusahaan swasta memang belum terlalu banyak dilakukan. Namun berbagai bukti anekdotal toh bermunculan di berbagai tempat. Di Zambia, misalnya, muncul ancaman kurangnya energi listrik semata-mata karena banyak insinyur yang meninggal karena AIDS. Para petani di Zimbabwe kini mengeluhkan buruknya sistem pengairan untuk sawah-sawah mereka. Penjepit pipa penyalur air banyak yang dicuri untuk digunakan sebagai pegangan peti mati. Sementara banyak perusahaan di Afrika Selatan yang sekarang mengeluhkan rendahnya tingkat produktivitas pegawai mereka, padahal di sisi lain perusahaan harus membayar lebih nahal untuk biaya pengobatan yang kian mahal. Oleh karena itu saat ini banyak perusahaan di negara itu yang mengintensifkan berbagai program untuk meningkatkan kewaspadaan pegawainya terhadap bahaya AIDS.
Fenomena Indonesia
Di Indonesia fenomena AIDS sendiri sebenarnya sudah dikenal dan menjadi isu pada awal Januari 1986, yakni dengan meninggalnya seorang pasien di RSIJ yang – melalui uji darah dengan menggunakan metode ELISA – diketahui mengidap AIDS. Bahkan sebelum tahun 1986 tersebut, tepatnya pada 1983, melalui penelitian di kalangan waria, dijumpai sejumlah individu yang kadar limfosit T helper (CD4) dalam tubuhnya sangat rendah (kurang dari 200/mm2). Ketika itu, dan sampai tahun 1995, kadar CD4 adalah salah satu pegangan penting bagi dokter untuk menentukan tingkat penyakit pada orang dengan HIV/AIDS, di samping gambaran klinik yang ada.
Banyak masyarakat yang menganggap datangnya penyakit yang sangat mematikan dan sulit diobati seperti AIDS adalah peringatan – bahkan hukuman – dari Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat manusia. Karenanya tak mengherankan jika pada awal berjangkitnya penyakit ini ada pengingkaran yang amat kuat, tidak hanya dari masyarakat awam tapi juga dari kalangan pemerintah dan otoritas kesehatan kala itu. Namun belakangan, ketika yang terjangkit tidak hanya mereka yang dianggap berperilaku “menyimpang”, tapi juga bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu berstatus odha dan mereka yang menerima transfusi darah yang tercemar HIV, pengingkaran tersebut – meski lamban – berubah menjadi penerimaan.
Saat ini, ketika korban yang berhasil dideteksi telah mendekati angka 900 orang, HIV/AIDS adalah isu publik yang telah berkembang menjadi agenda publik dan agenda pemerintah. Berbagai organisasi dan kelompok kerja yang menjadikan HIV/AIDS sebagai fokus kegiatan mereka tumbuh dan aktif melakukan berbagai kegiatan advokasi, terutama yang sifatnya preventif. Kiprah tersebut juga didukung oleh berbagai kekuatan seperti pers dan lembaga-lembaga donor yang saat ini banyak mengalokasikan sumber dana mereka terutama untuk menggarap banyak AIDS, gender, dan program-pro-gram demokratisasi.
Walau demikian, bukan berarti masalah HIV/AIDS di Indonesia telah memasuki periode stabil, yang antara lain diindikasikan oleh penerimaan seluruh lapisan masyarakat terhadap fenomena HIV/ AIDS dan odha di tengah-tengah masyarakat. Berbagai pemberitaan yang muncul belakangan tentang masih diingkarinya hak-hak odha di tengah masyarakat misalnya, menjadi indikasi betapa HIV/AIDS belum lagi menjadi kepedulian bersama seluruh masyarakat. Selain itu, sampai saat ini masih banyak kalangan yang memandang HIV/ AIDS adalah penyakit disebabkan oleh perilaku seks yang menyimpang (homoseksualitas). Pandangan serupa ini, bagi beberapa aktivis AIDS dianggap ironis, mengingat di Indonesia sebagian besar korban adalah kaum heteroseks.
Masalah lain yang secara langsung juga berpengaruh dalam penatalaksanaan AIDS di Indonesia saat ini adalah kondisi krisis ekonomi yang tengah melingkupi negara ini. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat dari adanya krisis tersebut adalah turunnya standar hidup, termasuk dalam bidang kesehatan. Berkaca dari pengalaman di Merauke misalnya, agaknya tak berlebihan jika tumbuh kekhawatiran wabah HIV/AIDS akan berkembang secara lebih cepat akibat minim dan mahalnya alat-alat kedokteran seperti jarum suntik sekali pakai.
Kemiskinan dan kelaparan, konsekuensi lain dari krisis tersebut, juga menjadi faktor yang memperpendek harapan hidup odha. Belum lagi, misalnya, jika kita bicara soal banyaknya korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat tanggungan tenaga kerja produktif di Indonesia semakin besar, yakni dari 1:5 (satu tenaga produktif menanggung biaya hidup 5 orang) menjadi 1:7 dan sangat mungkin akan terus makin timpang perimbangannya.
Karenanya, bukan tak mungkin ada sebagian dari mereka yang kemudian masuk ke dunia prostitusi dan menjadi “bahan bakar” tambahan bagi berjangkitnya wabah ini. Beberapa kali media massa kita menurunkan pemberitaan mengenai gadis-gadis ABG yang dijual ke pemilik rumah hiburan, terutama di Pulau Batam. Modusnya pada umumnya sama: gadis-gadis belia itu dijanjikan pekerjaan di Jakarta atau kota besar lainnya, dimintai sejumlah biaya (kadang-kadang cukup besar, sehingga ada yang terpaksa menjual sawahnya untuk bisa berangkat), tapi akhirnya terdampar sebagai pekerja seks komersial.
Maka, tantangan yang kini nyata dihadapi masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang bergerak di bidang ini, adalah menetapkan strategi-strategi baru dalam mengantisipasi kemungkinan percepatan menjalarnya penyakit ini. Penetapan strategi baru tersebut antara lain didapat dengan merefleksikan kembali langkah-langkah yang pernah diambil selama kurun waktu kurang lebih 15 tahun ( 19831998 ) menangani masalah ini. Hasilnya diharapkan bisa menjadi semacam pijakan bagi langkah selanjutnya yang akan diambil.
Ikhtisar Global dari Epidemi HIV/AIDS sampai Desember 1998
Orang yang baru terinfeksi HIV thn 1998 Total
5,8 Juta
Dewasa 5,2 Juta
Wanita 2,1 Juta
Anak-anak < 15 tahun 590.000
Jumlah odha Total 33,4 Juta
Dewasa 32,2 Juta
Wanita 13,8 Juta
Anak-anak < 15 tahun 1,2 Juta
Kematian odha thn 1998 Total 2,5 Juta
Dewasa 2,0 Juta
Wanita 900.000
Anak-anak < 15 tahun 510.000
Jumlah total kematian odha sejak Total 13,9 Juta
awal epidemi
Dewasa 10,7 Juta
Wanita 4,7 Juta
Anak-anak < 15 tahun 3,2 Juta
Sumber: UNAIDS, 1998
Informasi Dasar tentang HIV/AIDS
Apa itu AIDS?
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau Sindrom Kehilangan Kekebalan Tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Bagaimana cara penularannya?
HIV ditularkan melalui tiga jalur:
l Hubungan seksual.
2 Transfusi darah dan pemakaian alat-alat yang sudah tercemar HIV seperti jarum suntik dan pisau cukur.
3 Melalui ibu yang hidup dengan HIV kepada janin di kandungannya atau bayi yang disusuinya.
Mengapa jalur-jalur tersebut dapat menularkan HIV?
Karena HIV – dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain – dapat ditemukan dalam darah, air mani, dan cairan vagina seorang pengidap HIV. Sedangkan melalui cairan-cairan tubuh yang lain (seperti air mata, keringat, air liur, dan air seni) tidak pernah dilaporkan adanya kasus penularan HIV.
Bagaimana mencegah penularan HIV lewat hubungan seks?
Ada tiga cara untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seks,
yang dikenal dengan prinsip ABC:
l Abstinence (abstinensi), yakni puasa tidak melakukan hubungan seks sama sekali.
2 Be faithful, yakni tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya.
2 Condom, yakni jika kedua cara di atas sulit dilakukan, maka melakukan seks aman – termasuk dengan menggunakan kondom – amat ditekankan.
Bagaimana mencegah penularan HIV lewat alat-alat yang tercemar HIV?
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam hal ini:
l Semua alat yang menembus kulit dan darah (seperti jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan cara yang benar.
2 Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain.
Untuk lebih mendalamnya lagi, Anda dapat mendownload dengan lengkap buku ini dalam bentuk pdf:membidikaids11