Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN

Gaya Hidup Sehat

 

Indonesia sehat 2010 hanya dapat dicapai dengan komitmen dan kerja sama serta kerja keras pemerintah, masyarakat dan lembaga swasta. Indikator kesehatan yang sangat erat hubungannya dengan pencapaian Indonesia Sehat 2010 antara lain adalah : kegiatan fisik, merokok dan penggunaan obat terlarang, kegemukan dan obesitas, pencegahan beberapa penyakit antara lain penyakit jantung, kanker dll.

 

Penyakit jantung dan bahkan juga penyakit kanker dapat dicegah dengan mengubah dan memperbaiki gaya hidup. Beberapa kiat berikut bermanfaat untuk mencegah timbulnya kedua penyakit yang mematikan tersebut.           

 

 

 

 

Yang paling penting, adalah dengan menghindari rokok dan tidak minum alkohol. Menghentikan merokok, terbukti dapat segera mengurangi risiko sakit jantung. Selain mencegah penyakit jantung tidak merokok juga dapat mencegah timbulnya penyakit kanker. 

 

Tips lain yang juga penting adalah olahraga ringan, berjalan kaki misalnya, sejam sehari dan olahraga yang lebih berat (misalnya bersepeda, berenang, senam) satu jam seminggu. Orang yang tidak pernah olahraga mempunyai risiko serangan jantung dua kali lebih besar.    

 

Mengenai makanan, berdasarkan analisa dari sekitar 4500 penelitian, terbukti makan sayur dan buah yang cukup banyak setiap hari (lima kali), dapat menjaga kesehatan kita. Kemudian, daging ayam dan ikan ternyata lebih baik dari daging kambing ataupun daging sapi. Namun cara memasak juga perlu diperhatikan. Kita tidak dianjurkan memasak daging yang kena api langsung. Jadi sebaiknya jangan  sering-sering makan sate, kambing guling, ataupun ayam asap. Ikan, seperti dinyatakan di atas, merupakan makanan yang lebih baik daripada daging sapi atau kambing. Namun, ikan yang diasinkan agar bisa awet berbulan-bulan ternyata tidak baik buat kesehatan.                   

 

Badan terlalu gemuk, juga merupakan faktor risiko untuk serangan jantung. Bila Anda merasa terlalu gemuk, sebaiknya diet rendah kalori, dengan mengurangi kue, es krim dan jajan pasar. Ganti dengan sayur dan buah dan olahraga teratur. Gemuk sedikit tidak apa-apa, asal olahraga teratur dan banyak menkonsumsi buah dan sayur.          

 

Beberapa hal yang perlu diingat adalah :

·       Diet yang tidak sehat dan gaya hidup santai tanpa olahraga terbukti dapat menyebabkan timbulnya kanker.

·       Kegemukan dan obesitas memudahkan timbulnya kanker payudara, usus besar,  uterus, esofagus dan kanker ginjal.

·       Konsumsi alkohol meningkatkan risiko kanker payudara, mulut, tenggorokan, laring, esofagus, kanker liver.

·       Risiko timbulnya kanker lebih meningkat lagi bila dikombinasikan dengan merokok.

·       Gemuk yang berlebihan atau obesitas, bukan lagi faktor risiko, namun sudah dikategorikan penyakit, angka kematian pada obesitas jelas meningkat.

·       makan yang berlebihan (jumlah kalori ataupun lemak) adalah diet yang tidak sehat.

·       Demikian pula makanan yang diasinkan dapat meningkatkan kanker.

·       Makan ikan amat dianjurkan untuk menjaga kesehatan, namun makan ikan yang diawetkan dengan diasinkan, harus dihindari.

·       Makan sayur dan buah setiap hari dapat menekan risiko timbulnya berbagai kanker, misalnya kanker payudara, usus besar, mulut, kanker paru dan kanker cervix.

·       Kombinasi olahraga dan diet dapat mencegah timbulnya kanker sebesar 30%. Olahraga apapun atau berjalan cepat setiap hari selama 30-60 menit amat dianjurkan. Cukup banyak anggota masyarakat kita yang merasa tidak bisa olahraga, karena harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.

·       Dalam hal ini, olahraga bisa dilaksanakan sore hari atau begitu sampai di kantor pagi hari, kemudian berjalan cepat keluar kantor selama 15 menit, kemudian kembali ke kantor 15 menit, juga berjalan cepat.

 

Sebagai kesimpulan, penyakit kanker bisa dicegah. Menghentikan merokok merupakan upaya pencegahan terpenting. Hidup sehat dengan stop alkohol, setiap hari makan sayur, buah dan olahraga merupakan kebiasaan yang dapat mencegah timbulnya berbagai jenis kanker.

 

Tampaknya memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan kita, khususnya untuk menghentikan kebiasaan merokok. Namun, bila nasehat di atas diikuti, kesehatan keseluruhan kita akan lebih baik sehingga tidak  mudah sakit. Mencegah lebih baik dari mengobati. Sekali lagi, penyakit jantung dan kanker dapat dicegah. Tentunya bila kita mau.

 

 

 

                                                                     

 

Kanker di negara berkembang

 

Kanker merupakan masalah yang besar, di seluruh dunia, 12.5% kematian disebabkan kanker, jadi melebihi jumlah kematian akibat HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria digabung menjadi satu. Sekitar 7 juta orang meninggal setiap tahun akibat kanker, penyakit yang merupakan beban yang amat berat, bagi pasien, keluarga maupun masyarakat. Kanker penyebab kematian urutan ketiga.  Penyakit ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar di negara berkembang,  karena lebih dari 50% pasien kanker di seluruh dunia berada di negara berkembang.

 

Masalah kanker di negara berkembang menjadi lebih berat, karena 75% pendapatan dunia ada di 5 besar negara maju, dan negara berkembang hanya kecipratan beberapa persen saja. Selain itu, menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO , kebanyakan negara berkembang –termasuk Indonesia- tidak memprioritaskan penanggulangan kanker, karena kurang menyadari seriusnya masalah ini, dan  masalah lain dianggap lebih penting, baik masalah ekonomi, politik, maupun masalah kesehatan lain, penyakit infeksi misalnya.

 

Data tersebut mengemuka pada saat penulis mengikuti konperensi kanker di Paris yang dibuka tanggal 30 Oktober 2005. Berikut beberapa catatan penting dari pertemuan tersebut. Selain masalah rendahnya prioritas, masalah berat yang dihadapi negara berkembang dalam kaitan dengan kanker adalah masalah merokok, obesitas, diet yang tidak sehat, tingginya infeksi virus hepatitis B dan HPV (human papilloma virus) serta  gaya hidup santai, tidak aktif berolah raga. Kesemuanya merupakan faktor risiko yang memudahkan timbulnya kanker. Menurut WHO, 43% kanker disebabkan oleh merokok, salah diet dan penyakit infeksi. Pesan pertama pertemuan tersebut, adalah separuh angka kejadian kanker dapat dicegah.

 

Merokok merupakan penyebab 30% kematian akibat kanker, merokok menjadi penyebab utama (80%) kanker paru pada laki-laki dan  penyebab 45% kanker paru pada wanita. Merokok juga menjadi penyebab penting timbulnya kanker tenggorokan, mulut, pankreas, kandung kemih, lambung, liver dan kanker ginjal.

 

Diet yang tidak sehat dan gaya hidup santai tanpa olahraga terbukti dapat menyebabkan timbulnya kanker. Kegemukan dan obesitas memudahkan timbulnya kanker payudara, usus besar,  uterus, esofagus dan kanker ginjal. Konsumsi alkohol meningkatkan risiko kanker payudara, mulut, tenggorokan, laring, esofagus, kanker liver. Risiko timbulnya kanker lebih meningkat lagi bila dikombinasikan dengan merokok.

 

Seperlima kanker di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit infeksi kronik, khususnya infeksi virus hepatitis B (kanker liver) dan HPV (kanker cervix). Sebagian kanker yang lain disebabkan oleh infeksi HIV (kanker Kaposi dan limfoma), skistosoma (kanker kandung kemih) dan kuman Helicobacter pylori (kanker lambung). Kondisi ini beda sekali dengan di negara maju, angka kejadian kanker akibat infeksi jarang didapatkan.

 

Penanggulangan Kanker

Penanggulangan kanker tentu harus mempertimbangkan faktor faktor diatas. Upaya pencegahan merupakan upaya terpenting, selain lebih baik daripada mengobati, juga lebih murah. Merokok jelas merupakan penyebab kematian terpenting yang bisa dicegah. Menekan 50% konsumsi rokok sekarang ini, dapat mencegah kematian sebesar 20 sampai 30 juta orang dalam duapuluh tahun mendatang (sebelum tahun 2025), dan mencegah 170-180 juta kematian sebelum tahun 2050.

 

Menghentikan merokok dan menghindari memulai merokok adalah upaya terbaik setiap orang untuk menjaga kesehatannya. Merokok merupakan ancaman kesehatan buat masyarakat dan peran aktif masyarakat menghentikan atau mengurangi konsumsi rokok amat diperlukan.

 

Bahkan paparan asap rokok untuk masyarakat yang tidak merokok (passive smokers) meningkatkan risiko kanker paru sebesar 20%. Sebagai tambahan, salah satu strategi yang penulis perhatikan di Amerika, adalah upaya di sekolah menyadarkan siswa sejak kecil, bahwa bila ayahnya, ibunya  atau kakaknya merokok, maka anggota keluarga yang tidak merokok akan kena getahnya, lebih mudah sakit, termasuk kanker.

 

Jadi, yang melarang ayahnya merokok di rumah adalah anak-anaknya. Saya melihat sendiri, walaupun musim dingin, bila ingin merokok, si ayah harus keluar rumah. Sedihnya,  pendidikan seperti ini belum diterapkan di Indonesia. Sebaliknya, yang ada adalah iklan rokok besar-besaran di televisi dan media cetak kita, yang sama sekali tidak bisa kita jumpai di negara lain.

 

Pemeo gemuk adalah lambang kemakmuran sudah lama ditinggalkan orang. Kegemukan, apalagi obesitas, justru memudahkan timbulnya kanker, stroke dan penyakit jantung. Gemuk yang berlebihan atau obesitas, bukan lagi faktor risiko, namun sudah dikategorikan penyakit, angka kematian pada obesitas jelas meningkat.

 

Masyarakat perlu disadarkan bahwa makan yang berlebihan (jumlah kalori ataupun lemak) adalah diet yang tidak sehat. Demikian pula makanan yang diasinkan dapat meningkatkan kanker. Makan ikan amat dianjurkan untuk menjaga kesehatan, namun makan ikan yang diawetkan dengan diasinkan, harus dihindari.

 

Makan sayur dan buah setiap hari dapat menekan risiko timbulnya berbagai kanker, misalnya kanker payudara, usus besar, mulut, kanker paru dan kanker cervix.

 

Kombinasi olahraga dan diet dapat mencegah timbulnya kanker sebesar 30%. Olahraga apapun atau berjalan cepat setiap hari selama 30-60 menit amat dianjurkan. Cukup banyak anggota masyarakat kita yang merasa tidak bisa olahraga, karena harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Dalam hal ini, olahraga bisa dilaksanakan sore hari atau begitu sampai di kantor pagi hari, kemudian berjalan cepat keluar kantor selama 15 menit, kemudian kembali ke kantor 15 menit, juga berjalan cepat.

 

Risiko kanker liver meningkat 40 kali, bila kita terinfeksi virus hepatitis B. Sayangnya vaksinasi virus ini belum membudaya. Indonesia termasuk prevalensi tinggi untuk hepatitis B, puluhan juta penduduk kita terinfeksi, pasien kanker hati juga banyak sekali, sehingga seharusnyalah sebagian besar masyarakat kita divaksinasi. Jadi, kanker hati masalah besar di Indonesia, bisa dicegah, vaksinnya ada, namun yang penduduk yang divaksinasi masih sedikit.

 

Risiko kanker cervix meningkat 100 kali, bila kita terinfeksi HPV.  Kanker cervix merupakan kanker yang tersering di Indonesia, uji klinik vaksin HPV berhasil bagus untuk mencegah kanker cervix. Mestinya Indonesia dan negara berkembang lain,  memprioritaskan vaksinasi hepatitis B dan mengupayakan vaksin HPV dan menyelamatkan jutaan orang Indonesia, apalagi  bila digabung dengan kampanye anti rokok dan hidup sehat.

 

Deteksi dini menyelamatkan kahidupan. Upaya deteksi dini termasuk kampanye pendidikan masyarakat mengenai gejala dan tanda awal kanker serta upaya skrining. Skrining kanker cervix dengan ”Pap’s smear” terbukti bisa menekan angka kematian secara drastis. Insidens kanker cervix di negara maju sekarang ini jauh lebih rendah dibandingkan insidens di negara berkembang. Kanker cervix merupakan salah satu kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia.

 

Pengobatan menjadi isu penting dalam konperensi Paris tersebut, banyak dibahas uji klinik obat obat  kanker yang baru, dengan hasil ayang amat menjanjikan, namun penerapan di negara berkembang jelas tidak mudah, karena obat baru identik dengan harga yang mahal. Yang bisa diterapkan antara lain adalah inovasi baru dengan obat khemoterapi lama dikombinasikan dengan inovasi di bidang radioterapi, seperti yang disampaikan oleh pakar dari HongKong –dengan hasil yang amat bagus- untuk pengobatan kanker nasopharynx. Jenis kanker ini termasuk yang terbanyak ditemukan di ruang rawat RSUPN Cipto Mangunkusumo.

 

Sistem asuransi kesehatan yang mencakup pembiayaan pengobatan kanker perlu dikembangkan, sehingga setiap pasien kanker mendapat akses pengobatan yang memadai. Rumah sakit pemerintah, sebagai sarana layanan kesehatan, perlu ditingkatkan kemampuannya untuk mendiagnosis dan mengobati kanker.  

 

Salah satu masalah yang dihadapi negara berkembang adalah belum berkembangnya  sistem pendataan kanker, khususnya data yang berbasis rumah sakit dan data kanker berbasis kependudukan. Padahal, pencatatan kanker menjadi salah satu dasar untuk menentukan prioritas program penanganan kanker sekaligus pencegahannya serta menjadi panduan untuk pengobatan kanker di Indonesia.

 

Sekadar informasi, sejak bulan Oktober 2004, Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia dan Roche-Indonesia memulai program pencatatan kanker di Indonesia (Cancer Registry Pilot Project). Perkembangan program ini, yang awalnya dibantu oleh Schlumberger, menggembirakan. Sudah berjalan baik di rumah sakit besar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan sejak beberapa bulan terakhir dijalankan juga di beberapa rumah sakit yang lain. Diharapkan di tahun-tahun berikutnya program ini diambil alih oleh pemerintah, setelah dievaluasi.

 

Belajar dari penanggulangan penyakit lain, AIDS, lupus, diabetes maka peran pasien kanker dan perhimpunannya sebetulnya penting sekali dalam penanggulangan kanker. Yang sudah berjalan lancar sekarang ini adalah perhimpunan profesi dokter yang terkait dengan kanker, misalnya POI, Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia, Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia, Patologi Indonesia, Radioterapi Indonesia, Bedah Onkologi Indonesia,  atau organisasi masyarakat YKI, namun organisasi organisasi  yang didirikan dan dikelola langsung oleh pasien kanker belum berkembang baik. Tugas pemerintah dan kita semua untuk memfasilitasinya. 

 

Bagaimana peran pemerintah? Peran pemerintah besar sekali, tentu diperlukan alokasi dana untuk upaya upaya tersebut diatas, yang perlu disertai dengan ketersedian tenaga terlatih dan dokter spesialis serta akses pengobatan sebagai tindak lanjut, setelah diagnosis ditegakkan. Pesan penting dari konperensi Paris tersebut, dan sebetulnya juga pesan dari konperensi konperensi kanker yang lain, janganlah hanya menjadi berita dan dokumen saja, namun kita harus mengerjakan penanggulangan kanker dengan benar, kita harus memasukkan sebagai agenda kebijakan, atau advokasi agar pemerintah Indonesia mengembangkan perencanaan penanggulangan kanker dengan benar.  Bila tidak, berarti kita sedang merencanakan kegagalan penanggulangan kanker.

 

Sebagai kesimpulan, penyakit kanker bisa dicegah. Menghentikan merokok merupakan upaya pencegahan terpenting. Hidup sehat dengan stop alkohol, setiap hari makan sayur, buah dan olahraga merupakan kebiasaan yang dapat mencegah timbulnya berbagai jenis kanker.

 

Vaksinasi hepatitis B merupakan upaya utama untuk mencegah timbulnya penyakit kanker hati, perlu mendapat prioritas dan perhatian serius dari pemerintah. Deteksi dini kanker cervix (kanker jalan lahir) dengan skrining Pap’s smear dilanjutkan dengan pengobatan, dapat menyembuhkan kanker cervix yang merupakan salah satu penyakit kanker tersering di Indonesia. Pengembangan vaksin dan akses vaksin HPV (Human Papilloma Virus) untuk mencegah kanker cervix perlu diikuti dengan cermat untuk segera dilaksanakan, begitu tersedia di pasaran. 

 

Peran masyarakat, khususnya peran pasien kanker dan perhimpunan pasien kanker, terbukti banyak manfaatnya di banyak negara dan merupakan salah satu faktor penting keberhasilan program penanggulangan penyakit kanker; pemerintah Indonesia dan organisasi profesi perlu mendukung dan memfasilitasi perkembangan perhimpunan pasien ini.   

 

 

 

Zubairi Djoerban

 ABOUT ICAAP 9

The theme of the 9th ICAAP is “Empowering People, Strengthening Networks”

For more than 20 years countries around the world have faced the AIDS epidemic more or less alone. Best practices have been documented to help countries deal with their specific epidemics, but as the world becomes more globalized and country borders become more fluid, interventions that address mobility, migration and global and regional responses become more important.

The empowerment of people – both HIV-positive and HIV-negative vulnerable to HIV – and the strengthening of networks – PLHIV groups, faith-based organizations, communities, governments, regions, sectors, as well as individuals – are important components to addressing this change.

With increased mobility in-country and across borders, nations can no longer expect to work alone in its response to HIV and AIDS.

Regional and international cooperation is needed to address HIV transmission among migrant populations. Strong networks are of utmost importance when countries need effective interventions to halt the epidemic in its tracks.

The 9th International Congress on AIDS in Asia and the Pacific in Bali in August 2009 aims to address, among others, issues of mobility, migration, as well as gender and people with disabilities in order to empower the people and strengthen networks to effectively respond to AIDS.

 

 

 

 

PROLOG 

 

 

Sejak kasus pertama dilaporkan pada 1981, AIDS menjadi agenda penting tidak hanya di kalangan kedokteran, tetapi juga di kalangan politisi pengambil keputusan, pemimpin agama, dan masyarakat dunia pada umumnya. Sejak itu pula pengetahuan mengenai AIDS dan virus HIV pun berkembang dengan sangat pesat. Berbagai penelitian untuk memahami karakteristik sindroma ini berpacu dengan penelitian untuk mendapatkan vaksin yang bisa menangkal virus tersebut. Sayangnya hingga saat ini, di luar harapan yang terus dijaga, dunia kedokteran belum berhasil menemukan vaksin semacam itu.

Yang menyedihkan, penularan virus penyebab AIDS ini lebih terkonsentrasi di wilayah Dunia Ketiga, yang masyarakatnya masih bergelut dengan masalah keterbelakangan pendidikan, ekonomi, dan terutama akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai.

 

Afrika sub-Sahara, terutama di wilayah timur dan selatan seperti Botswana, Namibia, Swaziland, dan Zimbabwe, sejauh ini adalah yang paling rawan infeksi HIV: seperlima sampai seperempat penduduknya yang berusia antara 1549 tahun terinfeksi HIV/AIDS.

 

Di Botswana, anak-anak yang dilahirkan selama dekade mendatang memiliki tingkat harapan hidup sampai 40 tahun. Padahal jika tanpa AIDS, harapan hidup mereka mencapai 70 tahun. Di Zimbabwe, dari 25 tempat yang dijadikan sampel penelitian pada 1997, hanya dua tempat yang prevalensi HIV-nya di kalangan perempuan hamil di bawah 10%. Sementara di 23 tempat lainnya prevalensi tersebut mencapai 20-50 persen. Sekitar sepertiga dari perempuan tersebut diperkirakan akan menularkan virus ke anak yang mereka kandung. Awal tahun 1999 ini pula pemerintah Zimbabwe mengumumkan prediksi bahwa dalam tahun ini akan ada lebih dari 70.000 warganya yang meninggal karena AIDS.

 

Laporan di majalah terkemuka The Economist edisi 2 Januari 1999 secara gamblang memaparkan bagaimana epidemi yang telah menginfeksi sekitar 47 juta manusia ini – 14 juta di antaranya sudah meninggal dunia – tak juga berkurang percepatan penularannya. AIDS kini menjadi pembunuh ke-4 di seluruh dunia setelah penyakit infeksi saluran pernafasan, gangguan saluran cerna, dan TBC. Infeksi HIV/ AIDS kini juga memakan korban lebih banyak dibanding malaria – penyakit yang sampai sekarang masih menjadi ancaman serius di banyak negara berkembang.

 

Di negara maju, memang, AIDS bukan lagi “akhir dari segalanya.” Berbagai macam obat – yang mahal harganya – membantu pasien HIV positif hidup lebih lama dan lebih sehat. Jumlah infeksi baru di kalangan masyarakat Amerika, Jepang, dan Eropa Barat juga berhasil ditekan sampai angka yang relatif rendah berkat kampanye efektif yang dilakukan secara terus-menerus.

 

Sebaliknya, di negara-negara berkembang, penyakit ini berkembang dengan pesatnya. Penduduk yang rata-rata miskin tak mampu membayar 1000 dolar per tahun untuk mendapatkan obat penyembuh berbagai infeksi oportunistik yang menyerang lantaran berkurangnya kekebalan tubuh. Akibatnya, saat ini jutaan orang di Afrika tak dapat berbuat apapun kecuali menanti kematian dengan pasrah.

 

Di Asia pun keadaannya tak lebih baik. Saat ini di seluruh Asia terdapat kurang lebih 7 juta penderita infeksi HIV. Jika dulu AIDS lebih diasosiasikan dengan kelompok pekerja seks dan pelanggannya yang ada di wilayah permukiman urban, atau di kalangan pecandu narkotika, maka sekarang anggapan itu harus direvisi.

 

India, yang 73% dari 930 juta penduduknya hidup di wilayah pedesaan, adalah contoh nyata. Di salah satu negara bagiannya yang berpenduduk paling sedikit, Tamil Nadu, ditemukan 2,1 % dari penduduknya yang berusia dewasa terinfeksi HIV. Angka 2,1% persen itu sendiri jauh di atas angka infeksi di kalangan masyarakat perkotaan di India yang hanya 0,7%. Selain itu, masih di negara bagian yang sama, ditemui kenyataan bahwa 10% dari responden pernah menderita penyakit menular seksual (PMS) seperti gonore, sifilis, dan sebagainya. Jelas bahwa ini adalah “lahan subur” bagi meluasnya epidemi HIV/AIDS.

 

Di Indonesia, perbandingan yang amat menyolok juga bisa dijumpai. Di Merauke, Irian Jaya, pada semester awal tahun 1998 dari perseratus ribu penduduk rata-rata dijumpai 44 orang pengidap HIV/AIDS (44/100.000). Padahal di Jakarta angka itu hanya 1,81/ 100.000. Selama bulan Januari 1999 saja dari 13 kasus baru infeksi HIV/AIDS yang dilaporkan, 11 di antaranya dijumpai di Irian Jaya (9 kasus HIV dan 1 AIDS). Sementara di Jakarta hanya ada tambahan satu kasus AIDS.

 

Berapa harga yang harus dibayar untuk semua ini? Setidaknya ada dua faktor yang, baik secara langsung ataupun tidak, berpengaruh pada besarnya beban yang harus ditanggung oleh suatu masyarakat (negara) akibat penyakit ini. Pertama, tidak seperti penyakit menular lainnya, infeksi HIV tidak mengakibatkan kematian segera, sementara biaya yang diperlukan untuk membeli obat-obat antiretroviral dan obat untuk berbagai jenis infeksi oportunistik sangat mahal, bahkan terlalu mahal, bagi pasien-pasien di negara-negara miskin. Kedua, karena pada umumnya penularan penyakit ini adalah melalui hubungan seks yang tidak aman, ada kecenderungan besar penyakit ini menimpa segmen masyarakat yang paling enerjik dan produktif.

 

Dampak dari kondisi ini tidak hanya dialami oleh pasien yang bersangkutan dan keluarganya, tapi juga oleh negara asal pasien. Sebuah studi yang dilakukan belum lama ini di Namibia menunjukkan bahwa negara itu harus menganggarkan sebesar 8 persen dari total GNP-nya untuk pengobatan AIDS. Sementara sebuah analisis lain memprediksi GDP Kenya akan turun sampai 14,5 persen, dan pendapatan per kapitanya turun 10 persen pada tahun 2005 “hanya” karena banyak penduduknya yang tertular HIV. Pemerintah Fiji, sebuah negara kecil di kawasan Pasifik, awal tahun 1999 ini menyatakan tak akan lagi memasukkan penyediaan obat penekan virus dalam anggaran kesehatan nasional. Akibatnya, pasien AIDS yang menderita tuberkulosis, misalnya, hanya akan diperlakukan sebagai pasien TB biasa. Bukan pasien AIDS yang mengidap infeksi oportunistik TB.

 

AIDS juga mempunyai dampak yang tidak kecil di berbagai sektor kehidupan. Menurut data UNAIDS, Botswana misalnya harus kehilangan 2-5 persen dari tenaga guru karena AIDS, sementara semakin banyak tenaga edukatif yang mengambil cuti sakit yang juga kian panjang.

 

Di sektor swasta penelitian mengenai kaitan HIV/AIDS dengan produktivitas perusahaan swasta memang belum terlalu banyak dilakukan. Namun berbagai bukti anekdotal toh bermunculan di berbagai tempat. Di Zambia, misalnya, muncul ancaman kurangnya energi listrik semata-mata karena banyak insinyur yang meninggal karena AIDS. Para petani di Zimbabwe kini mengeluhkan buruknya sistem pengairan untuk sawah-sawah mereka. Penjepit pipa penyalur air banyak yang dicuri untuk digunakan sebagai pegangan peti mati. Sementara banyak perusahaan di Afrika Selatan yang sekarang mengeluhkan rendahnya tingkat produktivitas pegawai mereka, padahal di sisi lain perusahaan harus membayar lebih nahal untuk biaya pengobatan yang kian mahal. Oleh karena itu saat ini banyak perusahaan di negara itu yang mengintensifkan berbagai program untuk meningkatkan kewaspadaan pegawainya terhadap bahaya AIDS.

Fenomena Indonesia

Di Indonesia fenomena AIDS sendiri sebenarnya sudah dikenal dan menjadi isu pada awal Januari 1986, yakni dengan meninggalnya seorang pasien di RSIJ yang – melalui uji darah dengan menggunakan metode ELISA – diketahui mengidap AIDS. Bahkan sebelum tahun 1986 tersebut, tepatnya pada 1983, melalui penelitian di kalangan waria, dijumpai sejumlah individu yang kadar limfosit T helper (CD4) dalam tubuhnya sangat rendah (kurang dari 200/mm2). Ketika itu, dan sampai tahun 1995, kadar CD4 adalah salah satu pegangan penting bagi dokter untuk menentukan tingkat penyakit pada orang dengan HIV/AIDS, di samping gambaran klinik yang ada.

 

Banyak masyarakat yang menganggap datangnya penyakit yang sangat mematikan dan sulit diobati seperti AIDS adalah peringatan – bahkan hukuman – dari Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat manusia. Karenanya tak mengherankan jika pada awal berjangkitnya penyakit ini ada pengingkaran yang amat kuat, tidak hanya dari masyarakat awam tapi juga dari kalangan pemerintah dan otoritas kesehatan kala itu. Namun belakangan, ketika yang terjangkit tidak hanya mereka yang dianggap berperilaku “menyimpang”, tapi juga bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu berstatus odha dan mereka yang menerima transfusi darah yang tercemar HIV, pengingkaran tersebut – meski lamban – berubah menjadi penerimaan.

 

Saat ini, ketika korban yang berhasil dideteksi telah mendekati angka 900 orang, HIV/AIDS adalah isu publik yang telah berkembang menjadi agenda publik dan agenda pemerintah. Berbagai organisasi dan kelompok kerja yang menjadikan HIV/AIDS sebagai fokus kegiatan mereka tumbuh dan aktif melakukan berbagai kegiatan advokasi, terutama yang sifatnya preventif. Kiprah tersebut juga didukung oleh berbagai kekuatan seperti pers dan lembaga-lembaga donor yang saat ini banyak mengalokasikan sumber dana mereka terutama untuk menggarap banyak AIDS, gender, dan program-pro-gram demokratisasi.

 

Walau demikian, bukan berarti masalah HIV/AIDS di Indonesia telah memasuki periode stabil, yang antara lain diindikasikan oleh penerimaan seluruh lapisan masyarakat terhadap fenomena HIV/ AIDS dan odha di tengah-tengah masyarakat. Berbagai pemberitaan yang muncul belakangan tentang masih diingkarinya hak-hak odha di tengah masyarakat misalnya, menjadi indikasi betapa HIV/AIDS belum lagi menjadi kepedulian bersama seluruh masyarakat. Selain itu, sampai saat ini masih banyak kalangan yang memandang HIV/ AIDS adalah penyakit disebabkan oleh perilaku seks yang menyimpang (homoseksualitas). Pandangan serupa ini, bagi beberapa aktivis AIDS dianggap ironis, mengingat di Indonesia sebagian besar korban adalah kaum heteroseks.

 

Masalah lain yang secara langsung juga berpengaruh dalam penatalaksanaan AIDS di Indonesia saat ini adalah kondisi krisis ekonomi yang tengah melingkupi negara ini. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat dari adanya krisis tersebut adalah turunnya standar hidup, termasuk dalam bidang kesehatan. Berkaca dari pengalaman di Merauke misalnya, agaknya tak berlebihan jika tumbuh kekhawatiran wabah HIV/AIDS akan berkembang secara lebih cepat akibat minim dan mahalnya alat-alat kedokteran seperti jarum suntik sekali pakai.

 

Kemiskinan dan kelaparan, konsekuensi lain dari krisis tersebut, juga menjadi faktor yang memperpendek harapan hidup odha. Belum lagi, misalnya, jika kita bicara soal banyaknya korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat tanggungan tenaga kerja produktif di Indonesia semakin besar, yakni dari 1:5 (satu tenaga produktif menanggung biaya hidup 5 orang) menjadi 1:7 dan sangat mungkin akan terus makin timpang perimbangannya.

 

Karenanya, bukan tak mungkin ada sebagian dari mereka yang kemudian masuk ke dunia prostitusi dan menjadi “bahan bakar” tambahan bagi berjangkitnya wabah ini. Beberapa kali media massa kita menurunkan pemberitaan mengenai gadis-gadis ABG yang dijual ke pemilik rumah hiburan, terutama di Pulau Batam. Modusnya pada umumnya sama: gadis-gadis belia itu dijanjikan pekerjaan di Jakarta atau kota besar lainnya, dimintai sejumlah biaya (kadang-kadang cukup besar, sehingga ada yang terpaksa menjual sawahnya untuk bisa berangkat), tapi akhirnya terdampar sebagai pekerja seks komersial.

 

Maka, tantangan yang kini nyata dihadapi masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang bergerak di bidang ini, adalah menetapkan strategi-strategi baru dalam mengantisipasi kemungkinan percepatan menjalarnya penyakit ini. Penetapan strategi baru tersebut antara lain didapat dengan merefleksikan kembali langkah-langkah yang pernah diambil selama kurun waktu kurang lebih 15 tahun ( 19831998 ) menangani masalah ini. Hasilnya diharapkan bisa menjadi semacam pijakan bagi langkah selanjutnya yang akan diambil.

Ikhtisar Global dari Epidemi HIV/AIDS sampai Desember 1998

Orang yang baru terinfeksi HIV thn 1998 Total

5,8 Juta
Dewasa 5,2 Juta
Wanita 2,1 Juta
Anak-anak < 15 tahun 590.000

 Jumlah odha Total 33,4 Juta 

Dewasa 32,2 Juta
Wanita 13,8 Juta
Anak-anak < 15 tahun 1,2 Juta

 

Kematian odha thn 1998 Total 2,5 Juta

 

Dewasa 2,0 Juta
Wanita 900.000
Anak-anak < 15 tahun 510.000

 

Jumlah total kematian odha sejak Total 13,9 Juta
awal epidemi

Dewasa 10,7 Juta
Wanita 4,7 Juta
Anak-anak < 15 tahun 3,2 Juta

 Sumber: UNAIDS, 1998

Informasi Dasar tentang HIV/AIDS

 

 

 

Apa itu AIDS?

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau Sindrom Kehilangan Kekebalan Tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Bagaimana cara penularannya?

HIV ditularkan melalui tiga jalur:
l Hubungan seksual.
2 Transfusi darah dan pemakaian alat-alat yang sudah tercemar HIV seperti jarum suntik dan pisau cukur.

3    Melalui ibu yang hidup dengan HIV kepada janin di kandungannya atau bayi yang disusuinya.

 

 

Mengapa jalur-jalur tersebut dapat menularkan HIV?

Karena HIV – dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain – dapat ditemukan dalam darah, air mani, dan cairan vagina seorang pengidap HIV. Sedangkan melalui cairan-cairan tubuh yang lain (seperti air mata, keringat, air liur, dan air seni) tidak pernah dilaporkan adanya kasus penularan HIV.

Bagaimana mencegah penularan HIV lewat hubungan seks?

Ada tiga cara untuk mencegah penularan HIV lewat hubungan seks,
yang dikenal dengan prinsip ABC:
l Abstinence (abstinensi), yakni puasa tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

2   Be faithful, yakni tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya.

2 Condom, yakni jika kedua cara di atas sulit dilakukan, maka melakukan seks aman – termasuk dengan menggunakan kondom – amat ditekankan.

 

Bagaimana mencegah penularan HIV lewat alat-alat yang tercemar HIV?

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam hal ini:

l Semua alat yang menembus kulit dan darah (seperti jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan cara yang benar.

2 Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain.

Untuk lebih mendalamnya lagi, Anda dapat mendownload dengan lengkap buku ini dalam bentuk pdf:membidikaids11

 

 

 

 

 

 

Dr.Zubairi yang baik,

Saya seorang ibu rumah tangga berusia 30 tahun.  Saat ini saya sedang takut sekali karena suami saya dinyatakan HIV positif.  Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah di bidang kesehatan dan saya sering membuka internet.  Dari informasi yang saya dapatkan ada yang agak membingungkan, yaitu bahwa hasil tes yang positif harus dikonfirmasi karena mungkin hasilnya negatif.  Kemudian yang diperiksa adalah antibodinya.  Yang ingin saya tanyakan apakah dari hasil yang ada sekarang suami saya benar-benar telah terkena HIV dan bagaimana caranya agar saya tidak tertular.

 

Sita, Jakarta

 

Ibu Sita yang baik,

Setiap tes mempunyai kelebihan dan keterbatasan, tidak terkecuali pula tes HIV.  Karena itu setiap kali membaca hasil dari laboratorium, seorang dokter harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memberikan kesimpulan kepada pasien.  Sebenarnya masalah tes HIV ini pernah saya bahas berkaitan dengan pertanyaan mengenai darah donor pada rubrik ini tanggal 5 Nopember 2000.

 

Suami ibu dinyatakan positif dengan menggunakan  tes penyaring yang menggunakan metode ELISA.  Pada metode ini  yang dideteksi adalah antibodi terhadap HIV, bukan mendeteksi keberadaan virusnya secara langsung. Untuk diketahui, bila seseorang terinfeksi HIV, maka antibodi baru terbentuk 3 bulan kemudian, ini yang disebut sebagai masa jendela. Jadi bila tes dilakukan pada masa jendela, maka tidak akan terdeteksi.

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas uji saring darah, yaitu alat dan reagensia yang dipakai (kualitas, cara penyimpanan, cara transportasi)  serta faktor manusia yang mengerjakan tes HIV. Masalah lain adalah “masa jendela” yang telah dibahas diatas.

 

Uji saring HIV menggunakan beberapa macam regensia yang berbeda.  Hampir semua reagensia yang ada sekarang mempunyai tingkat keakuratan yang tinggi. Untuk menentukan tingkat keakuratan ini biasanya digunakan istilah sensitivitas dan spesifisitas.  Tes yang sensitif adalah tes yang dapat memberikan hasil positif untuk semua sampel yang mengandung infeksi HIV.  Jadi, tidak boleh ada darah yang mengandung HIV dinyatakan negatif (negatif palsu). 

           

Tetapi mungkin juga ada darah yang tidak mengandung HIV, hasil pemeriksannya dinyatakan positif (positif palsu).  Oleh karena itu tes juga harus mempunyai spesifisitas yang tinggi.  Artinya, semua darah yang tidak mengandung HIV harus dapat dinyatakan negatif.  Bingung?

 

Sebagai contoh, di Sub Bagian Hematologi Onkologi Medik kami mempunyai empat macam reagensia. Angka sensitifitas keempat reagensia tersebut 100%, artinya kalau ada darah yang mengandung HIV pasti ditemukan. Spesifitas reagensia berkisar antara 99,3% sampai 99,93%, artinya kemungkinan  positif palsu hanya 0.7 sampai 0.07% (100% dikurangi 99,3% dan 99,93%).  Angka ini terkesan sangat bagus karena mendekati 100%.

 

Namun bila tes diterapkan pada 10.000 orang, hasilnya mengagetkan: kemungkinan hasil positif palsu adalah 7 sampai 70 orang, yang tentu saja dapat menimbulkan ketakutan dan kepanikan buat yang bersangkutan. Berapa besarnya angka positif palsu sangat tergantung dari siapa yang diperiksa.  Jika diperiksa pada masyarakat  umum (risiko rendah) banyaknya hasil positif palsu akan lebih tinggi dibandingkan jika diperiksa pada golongan risiko tinggi.

 

Misalnya,  pada calon pendonor darah yang berasal dari masyarakat umum dimana prevalensi masyarakat umum terinfeksi HIV adalah 0,01%.  Maka bila kita memeriksa 10.000 orang calon donor darah di Indonesia, hasilnya sebagai berikut. Kita akan mendapatkan 1 yang benar-benar positif (0,01% kali 10.000), sesuai dengan prevalensi.  Akan didapatkan pula yang positif palsu 0.07% x 10.000 = 7, artinya ada 7 orang yang positif tes-nya, tetapi sebetulnya negatif, tidak mengandung antibodi dan virus HIV. 

 

Jadi dari 10.000 darah yang diperiksa, 8 positif, namun yang benar-benar positif hanya 1.  Atau, dengan perkataan lain nilai prediksi tes HIV memakai reagensia merk diatas (dengan kualitas terbaik) hanya 1 / 8 kali 100%, hanya 12.5%. Jadi, setiap kali ada hasil positif, kemungkinan bahwa benar-benar positif hanya 12.5%.

 

Angka prediksi ini akan berbeda jika pemeriksaan dilakukan pada pecandu narkotika, misalnya.  Prevalensi HIV di kalangan remaja pemakai narkotika ini sekitar 30%, dan mungkin akan terus meningkat. Jadi bila diperiksa 10.000 pecandu, akan didapatkan yang benar-benar positif sebesar 3000 kasus (30% kali 10.000) dan yang positif palsu 7 orang.  Maka nilai prediksi hasil tes tersebut benar-benar positif  adalah 3000 per 3007 kali 100%, yaitu 99.77%.

 

Untuk itu maka setiap uji penyaring HIV yang positif dinyatakan dengan istilah “reaktif” , bukan “positif” dan perlu dikonfirmasi dengan uji ulang. Untuk negara berkembang, WHO mensyaratkan untuk menyatakan seseorang terinfeksi HIV maka harus ada 3 hasil positif dari 3 pemeriksaan ELISA dengan kit yang berbeda (reagensia, prinsip pengerjaan, atau antigennya berbeda). 

 

Jika masih ragu mengambil kesimpulan maka harus dilakukan pemeriksaan dengan metode lain.  Untuk memastikan apakah benar-benar ada antibodi terhadap HIV maka dapat dilakukan pemeriksaan Western Blot. 

Atau dapat juga dilakukan tes untuk mendeteksi keberadaan virus dalam darah secara langsung  baik secara kualitatif (ada atau tidak virus dalam darah) atau kuantitatif (jumlah virus dalam darah) yaitu dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction).  Sayangnya pemeriksaan ini  cukup mahal dan baru dapat dilakukan di RS Ciptomangunkusumo .

 

Semoga uraian tadi dapat memperjelas pemahaman ibu mengenai tes HIV.  Mengenai hasil tes suami ibu, biasanya laboratorium baru akan mengeluarkan hasil positif bila telah dilakukan konfirmasi dengan 3 macam tes penyaring atau konfirmasi dengan Western Blot. 

 

Untuk mengurangi risiko tertular maka setiap kali melakukan hubungan suami-istri , suami Ibu Sita harus memakai kondom. Saya anjurkan Ibu Sita juga melakukan tes HIV, agar dapat diketahui dengan pasti apakah ibu tertular atau tidak.  Hal ini  penting untuk penanganan selanjutnya termasuk pengobatannya.  Pengobatan infeksi HIV sekarang telah mencapai banyak kemajuan.  Penggunaan kombinasi obat-obat antiretroviral (anti virus HIV) saat ini telah memberi hasil yang menggembirakan, dimana  pertumbuhan virus bisa ditekan sehingga orang dengan HIV dapat hidup tanpa gejala untuk waktu yang lama.

 

Jika masih kurang jelas, Ibu Sita dapat mencari informasi lebih lanjut di Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS FKUI/RSCM Telp. 3905250.